Oleh: Gerardus Taena, Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang.
Tidak semua orang yang berjalan bersama mengetahui ke mana mereka sedang menuju. Ada kalanya seseorang mengikuti arah yang ditempuh banyak orang bukan karena yakin pada tujuannya, melainkan karena takut berbeda. Ia memilih jalan yang sama, memakai ukuran keberhasilan yang sama, bahkan mengejar impian yang sama. Bukan karena sungguh-sungguh menghendakinya, tetapi karena itulah yang dianggap wajar oleh lingkungan.
Gambaran ini terasa dekat dengan kehidupan pemuda Indonesia hari ini. Sejak bangku sekolah hingga perguruan tinggi, anak muda sering dihadapkan pada pertanyaan tentang nilai, prestasi, jurusan favorit, pekerjaan bergengsi, dan masa depan yang dianggap menjanjikan. Pendidikan pun perlahan-lahan dapat dipahami sekadar sebagai perlombaan untuk menjadi lebih unggul daripada orang lain. Siswa berlomba mendapatkan nilai tinggi, mahasiswa mengejar indeks prestasi, sementara lulusan berlomba mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan penghasilan dan pengakuan sosial.
Tidak ada yang salah dengan prestasi, cita-cita, atau keinginan memperoleh kehidupan yang layak. Masalah muncul ketika semua ukuran itu menjadi satu-satunya penentu nilai seseorang. Pemuda akhirnya lebih sibuk memenuhi harapan lingkungan daripada memahami dirinya sendiri. Mereka belajar untuk mendapatkan pengakuan, memilih jalan hidup demi menyenangkan orang lain, dan mengikuti arus karena takut dianggap gagal.
Di tengah keadaan tersebut, pemikiran filsuf Denmark, Søren Kierkegaard, menjadi penting untuk direnungkan. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak seharusnya kehilangan dirinya hanya karena ingin diterima oleh orang banyak. Keberanian menjadi diri sendiri merupakan bagian penting dari kehidupan yang otentik. Dari sini, pendidikan Indonesia perlu mengajukan pertanyaan mendasar: apakah pendidikan sungguh membantu pemuda mengenal dan membentuk dirinya, atau justru melatih mereka agar seragam mengikuti tuntutan zaman?
Ketika Pendidikan Terjebak dalam Perlombaan
Salah satu tantangan pendidikan masa kini adalah kecenderungan mengukur keberhasilan melalui angka dan hasil yang mudah dibandingkan. Nilai rapor, indeks prestasi, sertifikat, jumlah prestasi, dan peluang kerja memang dapat memberikan gambaran tentang capaian seseorang. Namun, semua itu tidak cukup untuk menjelaskan apakah seorang pemuda telah berkembang menjadi pribadi yang mandiri, jujur, bertanggung jawab, dan mampu menentukan arah hidupnya.
Persoalan ini semakin terasa dalam kehidupan digital. Media sosial menghadirkan berbagai gambaran tentang keberhasilan: mahasiswa yang memenangkan perlombaan, anak muda yang memperoleh beasiswa, lulusan yang bekerja di perusahaan besar, atau seseorang yang berhasil membangun usaha pada usia muda. Kisah-kisah tersebut dapat menjadi inspirasi. Akan tetapi, ketika terus-menerus dibandingkan dengan kehidupan orang lain, pemuda bisa merasa bahwa hidupnya selalu tertinggal.
Muncullah dorongan untuk mengikuti pilihan yang sedang populer. Jurusan dipilih karena dianggap menjanjikan, pekerjaan dikejar karena terlihat bergengsi, dan kegiatan akademik dilakukan demi memperindah daftar pencapaian. Pertanyaan “Apa yang sungguh-sungguh ingin saya pelajari?” perlahan digantikan oleh “Apa yang akan membuat saya terlihat berhasil?”
Dalam situasi seperti ini, pendidikan berisiko kehilangan makna dasarnya. Sekolah dan perguruan tinggi tidak lagi dipandang sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir, menemukan minat, membangun karakter, dan memahami tanggung jawab sosial. Sebaliknya, keduanya dapat berubah menjadi tempat untuk mengumpulkan bukti keberhasilan yang diakui masyarakat.
Tentu saja, persoalannya bukan terletak pada prestasi atau penggunaan teknologi. Persoalan sesungguhnya adalah ketika pemuda tidak lagi memiliki ruang untuk menilai secara kritis tujuan yang sedang mereka kejar. Mereka mungkin mengetahui cara mencapai keberhasilan, tetapi belum tentu memahami mengapa keberhasilan itu penting bagi hidup mereka.
Karena itu, krisis pendidikan tidak selalu berarti kurangnya fasilitas, rendahnya nilai, atau terbatasnya kesempatan kerja. Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni kemungkinan bahwa pendidikan menghasilkan orang-orang yang terampil memenuhi tuntutan lingkungan, tetapi kurang terlatih mengambil keputusan secara sadar dan bertanggung jawab.
Berani Menjadi Diri Sendiri Perspekti Soren Kierkegaard
Untuk memahami persoalan tersebut, pemikiran Søren Kierkegaard menawarkan sudut pandang yang menarik. Bagi Soren Kierkegaard, manusia bukan sekadar bagian dari kelompok yang mengikuti kebiasaan umum. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjalani hidupnya sendiri, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan pilihan-pilihannya.
Dalam pemikirannya, Soren Kierkegaard mengkritik kecenderungan manusia bersembunyi di balik pendapat umum. Ia melihat bahwa kerumunan dapat membuat seseorang kehilangan tanggung jawab pribadi karena ia merasa aman ketika mengikuti apa yang dilakukan banyak orang. Ketika semua orang memilih jalan yang sama, seseorang tidak perlu terlalu banyak bertanya apakah jalan itu benar-benar sesuai dengan keyakinannya.
Gagasan ini dapat menjadi cermin bagi dunia pendidikan. Pemuda tidak semestinya hanya diarahkan untuk mengikuti standar keberhasilan yang telah ditentukan masyarakat. Mereka perlu dibantu untuk mengenali kemampuan, minat, nilai, dan tanggung jawabnya sendiri. Pendidikan yang baik bukan sekadar mengajarkan jawaban yang benar, melainkan juga melatih keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang tepat.
Menjadi otentik, dalam konteks ini, bukan berarti menolak semua aturan, mengabaikan nasihat orang tua, atau menganggap diri selalu benar. Otentisitas berarti kesediaan untuk memahami alasan di balik suatu pilihan dan menjalankannya dengan penuh kesadaran. Seorang pemuda yang otentik tidak memilih sesuatu hanya karena sedang populer. Ia mempertimbangkan apakah pilihan itu sesuai dengan kemampuannya, nilai yang diyakininya, dan tanggung jawab yang harus dipikulnya.
Soren Kierkegaard juga menempatkan pilihan sebagai bagian penting dari keberadaan manusia. Hidup tidak dapat sepenuhnya dijalani dengan menyerahkan keputusan kepada orang lain. Ada saat ketika seseorang harus menentukan jalan, menerima ketidakpastian, dan menanggung konsekuensi dari pilihannya.
Dalam pendidikan, hal ini berarti pemuda perlu memperoleh kesempatan untuk mengambil keputusan, mengalami kegagalan, memperbaiki kesalahan, dan belajar dari pengalaman. Mereka tidak cukup hanya diberi petunjuk tentang pekerjaan yang menjanjikan atau jurusan yang sedang diminati. Mereka juga perlu didampingi untuk memahami siapa dirinya dan kehidupan seperti apa yang ingin dibangun.
Di sinilah arti penting keberanian menjadi diri sendiri. Seorang siswa yang memilih bidang seni meskipun teman-temannya memilih sains tidak otomatis sedang membuat keputusan yang keliru. Mahasiswa yang memilih mengabdi di daerah asalnya daripada mengejar pekerjaan bergengsi di kota besar juga tidak otomatis gagal. Nilai suatu pilihan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan popularitasnya, tetapi perlu dilihat dari alasan, tanggung jawab, dan kesungguhan yang menyertainya.
Namun, otentisitas bukanlah kebebasan tanpa batas. Kebebasan yang matang selalu berjalan bersama tanggung jawab. Pemuda perlu belajar bahwa menjadi diri sendiri bukan alasan untuk mengabaikan orang lain, melainkan kesempatan untuk mengambil bagian dalam kehidupan bersama tanpa kehilangan pertimbangan moralnya.
Menata Kembali Pendidikan: Dari Keseragaman Menuju Kesadaran
Pemikiran Soren Kierkegaard tidak harus berhenti sebagai bahan bacaan filsafat. Gagasannya dapat diterjemahkan menjadi perubahan konkret dalam cara keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat mendampingi pemuda.
Pertama, pendidikan perlu memberi ruang bagi pertanyaan, bukan hanya mengejar jawaban. Proses belajar seharusnya membantu siswa memahami alasan di balik suatu pengetahuan, menghubungkan pelajaran dengan kehidupan, dan berani menyampaikan pandangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Guru tidak hanya berperan sebagai pemberi materi, tetapi juga sebagai pendamping yang membantu siswa mengembangkan penilaian mandiri. Dengan demikian, keberhasilan belajar tidak berhenti pada kemampuan menghafal, melainkan berkembang menjadi kemampuan berpikir dan mengambil keputusan.
Kedua, keberhasilan pendidikan perlu dipahami secara lebih luas. Nilai akademik tetap penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran perkembangan seorang pemuda. Kejujuran, kepedulian, kreativitas, ketekunan, kemampuan bekerja sama, dan tanggung jawab juga merupakan bagian dari keberhasilan. Sekolah dan perguruan tinggi perlu menyediakan ruang bagi kegiatan sosial, penelitian, seni, olahraga, kewirausahaan, serta pengabdian kepada masyarakat. Melalui pengalaman tersebut, pemuda dapat mengenali kemampuan dan menemukan makna dari apa yang mereka pelajari.
Ketiga, keluarga dan masyarakat perlu mengubah cara memandang masa depan anak muda. Nasihat tentang pekerjaan yang stabil atau pendidikan yang menjanjikan tentu penting. Namun, nasihat itu sebaiknya tidak berubah menjadi tekanan yang menutup kemungkinan anak untuk mengenali minat dan potensinya. Orang tua dapat membantu dengan mendengarkan alasan di balik pilihan anak, mendiskusikan risiko secara terbuka, dan memberikan dukungan tanpa mengambil alih seluruh keputusan. Pendampingan semacam ini bukan berarti membiarkan pemuda berjalan tanpa arah, melainkan membantu mereka belajar menentukan arah secara bertanggung jawab.
Keempat, literasi digital harus mencakup kemampuan untuk menjaga jarak kritis dari keramaian. Pemuda perlu memahami bahwa apa yang ramai dibicarakan di media sosial tidak selalu benar, penting, atau sesuai dengan kebutuhan mereka. Mereka perlu belajar memeriksa informasi, mengenali tekanan perbandingan sosial, dan membedakan inspirasi dari tuntutan untuk meniru. Teknologi seharusnya menjadi sarana memperluas pengetahuan dan mengembangkan kreativitas, bukan sumber utama untuk menentukan harga diri.
Akhirnya, pendidikan perlu menempatkan pencarian jati diri dalam hubungan dengan kepentingan bersama. Menjadi pribadi yang otentik bukan berarti hanya mengejar kepuasan pribadi. Kesadaran akan diri sendiri justru dapat membantu pemuda memahami kelebihan yang bisa disumbangkan, persoalan sosial yang perlu dijawab, serta tanggung jawab yang harus dijalankan. Pendidikan yang demikian tidak hanya menghasilkan individu yang mengetahui apa yang diinginkannya, tetapi juga memahami apa yang dapat dilakukannya bagi sesama.
Perubahan ini tentu tidak dapat dilakukan oleh sekolah saja. Kebijakan pendidikan, budaya keluarga, tuntutan dunia kerja, dan lingkungan digital turut memengaruhi cara pemuda memandang masa depan. Karena itu, pembaruan pendidikan harus disertai kesediaan masyarakat untuk tidak menyamakan keberhasilan semua orang dengan satu pola kehidupan.
Menjemput Otentisitas, Membangun Masa Depan
Indonesia membutuhkan pemuda yang cakap, berpengetahuan, dan mampu bersaing. Namun, Indonesia juga membutuhkan pemuda yang berani berpikir mandiri, jujur terhadap dirinya sendiri, dan sanggup mempertanggungjawabkan pilihannya. Kecakapan tanpa kesadaran dapat membuat seseorang mudah mengikuti arus, sedangkan keberanian tanpa tanggung jawab dapat membuatnya terjebak dalam sikap mementingkan diri sendiri. Pendidikan perlu menumbuhkan keduanya secara seimbang.
Menolak kerumunan bukan berarti memusuhi masyarakat atau menolak kerja sama. Yang perlu ditolak adalah kebiasaan menyerahkan seluruh penilaian kepada pendapat umum. Pemuda tetap membutuhkan komunitas, guru, keluarga, dan sahabat. Akan tetapi, hubungan dengan orang lain seharusnya membantu mereka bertumbuh, bukan membuat mereka kehilangan suara batinnya sendiri.
Di tengah perubahan zaman, gagasan Soren Kierkegaard mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh hanya sibuk mempersiapkan pemuda untuk memasuki dunia yang sudah ada. Pendidikan juga harus membantu mereka menilai dunia itu, mengenali persoalannya, dan berani memperbaikinya. Untuk melakukan hal tersebut, pemuda membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan dan keterampilan. Mereka membutuhkan kesadaran diri, keberanian mengambil keputusan, serta tanggung jawab moral.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bagi pendidikan Indonesia bukan semata-mata berapa banyak lulusan yang berhasil memperoleh pekerjaan atau memenangkan persaingan. Pertanyaan yang tidak kalah penting ialah apakah mereka mampu menjalani hidup secara sadar, menentukan pilihan dengan pertimbangan yang matang, dan menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan bersama.
Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pemuda yang mampu mengikuti perubahan, tetapi juga oleh keberanian mereka untuk menentukan arah perubahan itu. Pendidikan yang bermakna bukanlah pendidikan yang membuat semua orang berjalan dengan cara yang sama, melainkan pendidikan yang membantu setiap orang menemukan jalannya sendiri tanpa kehilangan tanggung jawab terhadap sesama.
Menolak kerumunan, dengan demikian, adalah langkah awal untuk menjemput otentisitas. Bukan agar pemuda berdiri sendirian di luar masyarakat, melainkan agar mereka dapat hadir di tengah masyarakat sebagai pribadi yang sadar, merdeka, dan bertanggung jawab. Di sanalah pendidikan menemukan kembali tugas luhurnya: bukan sekadar menghasilkan orang-orang yang berhasil menurut ukuran zaman, tetapi membentuk manusia yang sanggup memberi makna bagi zamannya.(*)


Follow