Oleh : Angelita Mata Hine, S.pd, mahasiswa S2 FKIP, Universitas Nusa Cendana Kupang
Kupang, seputar-ntt.com – Jika Anda ingin menguji adrenalin dan merasakan sensasi berada di dalam film horor, cobalah melangkah ke Transmart Kupang di malam hari seorang diri. Begitu masuk, Anda akan langsung disambut oleh keheningan yang ganjil. Hanya suara deru mesin eskalator yang setia bergerak tanpa penumpang mengisi ruangan. Cahaya lampu LED putih menembus lantai granit yang begitu mengilap—menjadi saksi bisu betapa tempat ini dulunya ramai oleh lalu-lalang manusia. Kini, di sepanjang lorong Anda justru lebih sering menjumpai deretan patung manekin tanpa busana daripada manusia. Cahaya lampu menciptakan bayangan tinggi di dinding, seolah patung-patung pucat itu sedang memperhatikan gerak-gerik Anda. Perjalanan berlanjut menaiki eskalator mati menuju arena permainan. Denting musik arcade yang dirancang untuk merayakan keceriaan justru menebarkan rasa tidak nyaman : sebuah melodi gembira yang bergema di tengah keheningan yang mati. Syukurlah, suasana mencekam itu berakhir ketika Anda mencapai lantai teratas: lantai bioskop. Inilah satu-satunya oase kehidupan di gedung raksasa ini. Gedung ini tak lagi hidup sebagai pusat perbelanjaan, melainkan hanya bertahan karena layar lebar bioskop. Pertanyaannya: Mengapa gedung sebesar ini harus ‘mati secara perlahan’ dan hanya bergantung pada satu lantai bioskop untuk bertahan?
Tahukah Anda bahwa fenomena ini ternyata bukan hanya terjadi di Kupang? Sepinya Transmart adalah cerita nasional yang dialami oleh berbagai kota di Indonesia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Berdasarkan penelusuran di situs Quora, ada beberapa alasan utama yang diungkapkan oleh masyarakat dan mendapat banyak dukungan pembaca. Alasan terbanyak adalah harga produk yang dinilai lebih mahal dibandingkan tempat perbelanjaan lain. Selain itu, syarat promo yang rumit—karena hanya dikhususkan bagi pengguna bank tertentu seperti Bank Mega dan Allo Bank—membuat banyak orang malas berbelanja. Seorang pengguna bernama Lumia asal Sumatra bahkan menuturkan, “Bayangkan kita disuruh install aplikasi Allo Bank dan bikin akun rekening cuma buat dapat promo. Padahal harganya memang sudah dinaikkan sebelum dikasih promo.” Dari sini terlihat bahwa ketidakpraktisan dan promo yang ‘pilih kasih’ justru mengusir pembeli. Tak hanya itu, responden lain menyebutkan minimnya acara atau fasilitas hiburan pendukung, banyaknya rak kosong dengan pilihan produk yang sedikit dan mendekati tanggal kedaluwarsa, lokasi yang dirasa kurang strategis, hingga budaya belanja masyarakat yang berpindah ke online shop sejak pandemi. Masalah biaya parkir dan kebersihan yang kurang terjaga pun turut menjadi keluhan.
Jika kita tarik benang merahnya, sepinya Transmart Kupang—maupun cabang di kota-kota lain—merupakan hasil dari kombinasi perubahan perilaku konsumen dan strategi bisnis yang kurang tepat. Di satu sisi, kehadiran platform belanja online telah mengubah cara masyarakat berbelanja secara mendasar. Kini, orang-orang bisa mendapatkan barang kebutuhan sehari-hari dari rumah hanya dengan beberapa kali ketukan di layar ponsel, sering kali dengan harga yang lebih miring dan promo gratis ongkir tanpa syarat yang berbelit-belit.
Di sisi lain, ketika masyarakat memilih untuk tetap datang ke toko fisik (offline), yang mereka cari bukan sekadar barang belanjaan, melainkan sebuah pengalaman (experience). Hal ini bisa kita lihat pada pusat perbelanjaan lain di Kupang yang masih terus eksis, yaitu Lippo Plaza. Pengelola Lippo terbukti rutin menggelar berbagai acara menarik dan merangkul komunitas lokal sebagai wadah berkumpul. Mulai dari acara hiburan seperti k-pop dance, pentas seni sekolah, lomba menyanyi, nobar anime bersama komunitas pecinta One Piece, crochet day, PlayStation tournament, hingga ajang olahraga dan adu ketangkasan seperti boxing, balap Tamiya, serta push bike untuk anak-anak. Tidak hanya itu, Lippo juga rajin menghidupkan suasana melalui pameran produk lokal dan otomotif, festival Tenun Eksotis, gebyar kuliner, lomba makan mie, hingga perayaan hari besar seperti pertunjukan barongsai saat Imlek. Sayangnya, Transmart justru kehilangan daya tarik tersebut. Ketika lorong-lorong ritel mulai sepi, varian barang berkurang, dan harga terasa tidak kompetitif, kenyamanan berbelanja pun sirna. Pusat perbelanjaan yang megah ini akhirnya gagal memberi alasan bagi masyarakat Kupang untuk datang dan bertahan lebih lama, kecuali hanya untuk menonton film di lantai bioskop.
Fenomena “matinya” ritel megah seperti Transmart Kupang menjadi pelajaran penting dalam dunia bisnis modern. Sebuah gedung yang megah dan fasilitas yang lengkap tidak akan cukup jika tidak diimbangi dengan fleksibilitas untuk mendengarkan kebutuhan konsumen. Ketika harga tidak lagi bersahabat, promo terasa menyulitkan, dan kenyamanan berbelanja berkurang, masyarakat akan dengan cepat berpindah ke pilihan yang lebih praktis dan ekonomis. Transmart Kupang kini berada di persimpangan jalan. Jika ingin kembali hidup dan tidak sekadar menjadi “gedung bioskop berkedok mall”, pengelola harus berani berbenah dan merangkul kembali masyarakat umum. Tanpa perubahan strategi yang nyata, kemewahan yang tersisa di lorong-lorong sunyi itu lambat laun akan benar-benar menjadi kenangan masa lalu
Angelita Mata Hine, S.Pd
Biodata Penulis :
Angelita Mata Hine, S.pd saat ini merupakan mahasiswa aktif pada program studi magister (S2) Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Nusa Cendana Kupang. Selain menempuh studi pascasarjana, ia juga mendedikasikan diri sebagai guru les Privat Bahasa Inggris bagi anak-anak sekolah. Penulis menaruh perhatian mendalam pada berbagai isu sosial, dinamika pembangunan, serta perkembangan ruang public dan komunitas di Kota Kupang. Penulis dapat dihubungi melalui email : njlitamh@gmail.com. (*)


Follow