Oleh : Magdalena Ravyca Putri Lende
Kupang, seputarntt.com – Generasi Z tumbuh dalam lanskap kehidupan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka lahir dan berkembang di tengah kemajuan teknologi digital, internet berkecepatan tinggi, media sosial, serta kecerdasan buatan yang mengubah cara belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan memandang kehidupan. Dunia berada di genggaman tangan mereka. Informasi datang tanpa batas, tetapi pada saat yang sama, muncul tantangan baru berupa krisis makna, kegelisahan batin, dan melemahnya kedalaman spiritual.
Kemajuan teknologi telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, teknologi tidak selalu mampu menjawab kebutuhan terdalam manusia tentang tujuan hidup, ketenangan jiwa, dan makna keberadaan. Tidak sedikit anak muda yang memiliki ribuan teman di media sosial, tetapi merasa kesepian. Mereka mampu mengakses jutaan informasi, tetapi masih kebingungan menentukan arah hidup. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan material tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan spiritual.
Generasi Z, khususnya mereka yang tengah menduduki bangku kuliah, sering kali dilabeli sebagai generasi yang paling rentan terhadap isu kesehatan mental. Tuntutan akademik, ketidakpastian masa depan, hingga paparan media sosial yang tanpa filter memicu fenomena psikologis yang akrab disebut overthingking. Di tengah riuhnya badai pikiran ini, agama kembali hadir ke permukaan, namun dengan wajah yang berbeda. Bagi mahasiswa Gen Z, agama kini berdiri di persimpangan jalan yang ambigu: apakah ia berfungsi sebagai penyelamat kewarasan yang autentik, atau justru terjebak dalam komodifikasi iman demi tren semata?
Ketika Dunia Digital Menjadi Ruang Kehidupan
Bagi mahasiswa generasi Z, media sosial bukan sekedar hiburan melainkan panggung kehidupan yang memicu kecemasan konstan. Di balik layar gawai mereka, badai overthingking bergulung tanpa henti, mempertanyakan masa depan, nilai diri, hingga ketakutan akan kegagalan (FOMO). Di tengah labirin mental ini, fenomena menarik muncul konten-konten spiritual, potongan khotbah estetik dengan latar belakang musik lo-fi, serta kutipan ayat suci yang menjanjikan ketenangan, mendadak membanjiri beranda digital mereka. Pertanyaan mendasar pun menyeruak: apakah maraknya tren ini merupakan bentuk komodifikasi iman yang dangkal, atau justru oase esensial yang menyelamatkan kewarasan mereka?
Di satu sisi, tidak dapat dimungkiri bahwa agama bertindak sebagai jangkar penyelamat kewarasan. Di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat, ritual keagamaan menawarkan momen jeda yang sakral. Bagi mahasiswa Gen Z, doa, meditasi, atau membaca kitab suci bukan lagi sekadar kewajiban dogmatis yang kaku, melainkan bentuk atau upaya untuk meredakan kecemasan. Ketika sains dan logika akademis gagal memberikan jawaban atas ketidakpastian hidup, spiritualitas hadir menawarkan rasa kendali dan harapan. Agama memberikan narasi bahwa “Ada kekuatan yang lebih besar yang mengatur segalanya” yang secara psikologis sangat meringankan beban mahasiswa yang sering kali merasa memikul beban dunia di pundak mereka.
Namun, di sisi lain fenomena kembalinya Gen Z pada agama ini tidak lepas dari bahaya komodifikasi iman. Di era digital, spiritualitas kerap dikemas menjadi konten yang estetis dan komersial. Kita melihat kutipan-kutipan ayat suci yang dijadikan infografis cantik di instagram, hingga tren healing berbasis agama yang dikomersialkan lewat seminar atau produk tertentu.
Ketika agama direduksi sebatas pemuas algoritma atau kosmetik luar agar terlihat “tenang” di media sosial, esensi spiritualitas itu sendiri terancam luntur. Iman berisiko mengalami komodifikasi menjadi komoditas yang dikonsumsi untuk dicitrakan, bukan lagi dicerna secara mendalam untuk mengubah perilaku. Lebih jauh lagi, terdapat bahaya spiritual bypassing yang mengintai mahasiswa Gen Z.
Fenomena ini terjadi ketika seseorang menggunakan ajaran agama atau spiritualitas untuk menghindari, menekan, atau melarikan diri dari masalah psikologis yang sebenarnya membutuhkan penanganan profesional. Frasa-frasa seperti “kurang iman” atau “kurang ibadah” sering kali dijadikan senjata instan untuk menghakimi depresi klinis atau gangguan kecemasan. Padahal, overthingking yang ekstrem terkadang membutuhkan pendekatan medis dan psikoterapi, bukan sekadar pelarian spiritual sepihak.
Spiritualitas Bukan Sekadar Ritual
Dalam perspektif agama katolik, manusia tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual dan emosional, tetapi juga kecerdasan spiritual yang menghubungkan dirinya dengan Allah.
Filipi 4:6-7 mengatakan:
“Janganlah kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Dan Mazmur 62:6 mengatakan:
“Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.
Ayat-ayat diatas menegaskan bahwa ketenangan sejati tidak semata-mata berasal dari keberhasilan akademik, popularitas, maupun pencapaian materi, melainkan dari kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya.
Pada akhirnya, agama di tengah badai overthinking Gen Z bertindak sebagai penyelamat kewarasan yang nyata di ruang privat, namun sekaligus menjadi objek komodifikasi yang cair di ruang publik digital. Bagi mahasiswa Gen Z, kuncinya terletak pada filter kritis: mengambil nilai-nilai spiritual sebagai fondasi kedamaian batin, sembari tetap menjaga nalar untuk membedakan mana tuntunan iman yang substansial dan mana yang sekadar jualan konten demi algoritma media sosial. Spiritualitas sejati harusnya menguatkan mental untuk menghadapi dunia, bukan sekadar pelarian kosmetik dari kenyataan.(*)


Follow