Oleh : Andrianus Andreas Amfotis
Di era modern ini tak bisa dipungkiri adanya perkembangan teknologi yang pesat terutama dalam masyarakat. Berbagai kalangan menggunakan teknologi sebagai kebutuhan primer yang sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini perlahan telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia seperti cara berkomunikasi, berelasi, terutama berpengaruh terhadap kelestarian budaya. Jika dilihat dalam berbagai sisi, penggunaan teknologi sesungguhnya mempermudah terutama dalam promosi budaya lokal ke kancah global sehingga dunia dapat melihat kekayaan dan kearifan lokal di Indonesia. Namun di satu sisi, digitalisasi berpotensi menimbulkan ancaman dan kekhawatiran akan memudarnya nilai-nilai ataupun tradisi yang sudah diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang kita. Karena secara umum tradisi adalah warisan yang diturunkan oleh nenek moyang sebagai salah satu kekayaan yang harus dilestarikan oleh maryarakat. Kemudahan akses dan pesatnya perkembangan media sosial, memungkinkan masyarakat secara khusus generasi muda untuk berinteraksi dengan lingkup sosial yang luas , menjangkau berbagai budaya, norma,serta nilai yang berbeda . Fenomena ini membentuk ruang baru bagi pertukaran gagasan serta pengaruh budaya yang sebulumnya sulit dijangkau.
Masyarakat luas pada umumnya sudah luwes dalam mengakses media sosial seperti platform digital,berbagai bentuk kesenian, hiburan modern, bahkan ke luar negeri . banyak kalangan yang mulai memahami tradisi budaya daerahnya melalui berbagai konten antara lain seperti vidio , podcast, atau media interaktif lainnya. Digitalisasi menjadi sumber ancaman yang sekaligus menjadi sumber pengetahuan jika digunakan secara bijaksana. Generasi milenial sering kali lebih fokus untuk mangakses media sosial sehingga secara perlahan mulai melupakan pentingnya budaya lokal atau tradisi dalam kehidupan sehari-hari. Dibalik kemudahan akses, digitalisasi memicu pergeseran perilaku yang cukup memprihatinkan. Budaya gotong royong dan ikatan sosial kuat mulai tergantikan oleh individualisme dan budaya konsumtif . Media sosial sering kali lebih memamerkan citra diri daripada memperkuat interaksi budaya yang autentik. Digitasasi budaya hanya akan menjadi hantu jika tidak diberantas dengan literasi digital yang tinggi. Masyarakat perlu dididik agar mampu menggunakan teknologi secara bijaksana, sehingga kelestarian budaya tetap terpelihara dengan baik.
Tantangan serta harmoni dalam konteks interaksi budaya yang dipicu oleh media sosial. setiap suku , adat, dan komunitas serta wilayah memiliki niai budaya yang khas dan unik yang selama ini sudah dipertahankan turun temurun. Digitalisasi memicu proses akulturasi budaya yang begitu cepat . Nilai -nilai baru dapat diterima atau menimbulkan konflik dengan nilai tradisional generasi muda sebagai pengguna utama medsos. Berada di garis depan perubahan sehingga menjadi subjek penting dalam pengurangan ancaman memudarnya budaya ataupun tradisi dalam wilayah setempat.Perubahan nilai budaya yang dipengaruhi oleh media sosial,dapat membawa dampak positif seperti membuka wawasan dan mendorong inklusivitas , memperkuat kesadaran akan keberagaman ,serta memfasilitasi kolaborasi budaya antar kelompok . Namun disisi lain, pengaruh tersebut juga menyebabkna erosi nilai-nilai terdisional. Dampak negatif tersebut dapat terlihat dari pergeseran perilaku konsumtif serta anti sosial dan pelemahan solidaritas komunitas sosial.
Transformasi digitalisasi adalah sebuah keniscayaan yang mengubah tatatan budaya kita. Namun yang terpenting adalah bukan seberapa cepat kita mengadopsi teknologi, melainkan bagaimana kita tetap memegang teguh identitas budaya di tengah arus pesat perkembangan digitalisasi. Budaya digital haruslah menjadi cerminan niali-nilai lokal . Kunci menghadapi perkembangan medsos ini adalah peningkatan literasi digital. Generasi muda wajib menjadi subjek aktif yang meproduksi konten-konten bermuatan budaya lokal . Dengan menjadikan teknologi sebagai sarana bukan tujuan dan alat semata.(*)


Follow