Oleh: Isak Mone Kaka, Mahasiswa Fakultas Filsafat, Unwira Kupang
Kupang, seputarntt.com – Peristiwa kebakaran hutan yang sedang terjadi di Kalimantan meninggalkan banyak lahan hangus, tetapi yang paling mengkhawatirkan justru tak terlihat: udara yang kita hirup. Bagi anak-anak yang paru-parunya masih berkembang, ibu hamil yang menanggung dua kehidupan sekaligus, dan lansia yang daya tahan tubuhnya menurun, asap bukan sekadar gangguan sesaat. Data Kemenkes mencatat 306.309 kasus ISPA akibat karhutla di wilayah terdampak hingga 18 Oktober 2026. Di antaranya, 69.015 kasus dialami balita usia 0 sampai 5 tahun dan 49.680 kasus dialami lansia.
Masker dibagikan dan posko kesehatan dibuka, tetapi posko suatu hari akan ditutup, sedangkan dampak asap bagi kesehatan bisa bertahan jauh lebih lama daripada api. Maka pertanyaan yang patut kita ajukan bukan hanya bagaimana menolong hari ini, melainkan apakah solidaritas kita cukup panjang untuk menemani mereka setelah posko ditutup.
Bantuan Penting, tetapi Belum Cukup
Bantuan darurat adalah kewajiban moral yang tidak boleh ditawar. Masker, makanan, obat-obatan, dan tempat berlindung menyelamatkan nyawa pada hari-hari pertama, dan tidak ada yang salah dengan tindakan itu. Namun solidaritas yang berhenti pada paket bantuan hanyalah separuh solidaritas, karena tugas kita belum selesai ketika bantuan sudah dibagikan.
Dari sisi etika, pemulihan yang bermartabat menuntut kepedulian yang berkelanjutan terhadap empat hal pokok: hunian, kesehatan, pendidikan, dan kehidupan ekonomi warga. Hunian yang layak mengembalikan rasa aman bagi mereka yang rumahnya terbakar atau terpaksa mengungsi. Layanan kesehatan menjaga korban dari luka yang muncul belakangan, termasuk gangguan pernapasan akibat asap atau trauma yang tidak terlihat. Sekolah yang kembali berjalan menjaga masa depan anak-anak. Penghasilan yang pulih membuat keluarga berdiri dengan kaki sendiri, bukan terus bergantung pada belas kasihan.
Martabat Dimulai Setelah Kamera Pergi
Ada perbedaan moral antara menolong dan memulihkan. Menolong bisa dilakukan sekali, dengan niat baik dan sedikit waktu. Memulihkan membutuhkan komitmen panjang, anggaran yang terawasi, dan kesediaan untuk tetap peduli ketika kamera sudah pergi dan isu tidak lagi ramai di media sosial.
Di titik inilah solidaritas kita benar-benar diuji. Kita mudah tergerak oleh gambaran penderitaan yang dramatis, tetapi cepat lelah menghadapi penderitaan yang berjalan pelan: anak yang berminggu-minggu tak bisa bersekolah karena kabut, ibu hamil yang terus waswas dengan kandungannya, lansia yang napasnya tak lagi sama, dan keluarga yang kehilangan penghasilan ketika usaha mereka lumpuh. Penderitaan semacam ini tidak viral, tetapi sama nyatanya.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Tentu ada yang berpendapat bahwa pemulihan jangka panjang adalah tugas negara, bukan beban masyarakat. Pandangan itu ada benarnya: pemerintah memegang anggaran dan kewenangan untuk membangun kembali infrastruktur dan layanan dasar. Dalam kasus karhutla, tanggung jawab itu juga mencakup penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti menyebabkan kebakaran, agar korban tidak terus menanggung akibat perbuatan orang lain.
Namun negara bekerja lebih baik ketika masyarakat ikut mengawasi, menagih, dan menemani. Dana pemulihan yang tidak diawasi rawan bocor, dan janji layanan kesehatan yang tidak ditagih mudah dilupakan. Solidaritas warga bukan pengganti tanggung jawab negara, melainkan penjaga agar tanggung jawab itu tidak berhenti di tengah jalan.
Menemani sampai Pulih
Lalu apa yang bisa kita lakukan setelah posko ditutup? Ada dua langkah sederhana yang bisa dimulai minggu ini. Pertama, cari lembaga atau komunitas lokal yang masih mendampingi korban asap di daerah kita, lalu dukung dengan cara yang paling memungkinkan, entah lewat donasi, tenaga, atau sekadar menyebarkan informasinya. Kedua, ikut bertanya secara terbuka kepada pemerintah daerah tentang layanan kesehatan dan dana pemulihan bagi anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Pertanyaan warga yang terus diulang adalah pengingat paling sederhana agar tanggung jawab tidak terlupa.
Api suatu hari akan padam, tetapi dampaknya bagi napas anak-anak, ibu hamil, dan lansia bisa berlangsung jauh lebih lama. Pilihan ada pada kita: solidaritas yang hanya hadir di hari pertama, atau yang cukup panjang untuk tetap tinggal setelah posko ditutup, menemani mereka sampai pulih dengan martabat yang utuh.
Sumber data: Kementerian Kesehatan, dikutip VIVA: ISPA di Tengah Karhutla Tembus 306 Ribu Kasus, Lebih dari 146 Ribu Anak Terdampak (20 Oktober 2026). (*)


Follow