Kupang, seputarntt.com – Setelah tiga bulan berturut-turut mengalami deflasi, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mengalami inflasi pada Oktober 2026. Inflasi month to month (m to m) tercatat sebesar 0,15 persen.
Hal ini disampaikan Kepala BPS Provinsi NTT, Matamira Kale saat jumpa pers di aula kantor BPS, Senin (2/11/2026).
“Inflasi ini terjadi di tiga wilayah cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK), sementara dua wilayah lainnya justru mengalami deflasi,” tegas Matamira.
Dikatakan Matamira, inflasi terbesar terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebesar 0,68 persen, sedangkan deflasi terdalam terjadi di Maumere sebesar 0,85 persen.
Lebih lanjut dijelaskan, berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi Oktober dipicu naiknya indeks harga, pada 9 dari 11 kelompok pengeluaran. Yang paling dominan adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 0,12 persen dengan andil 0,04 persen, serta kelompok pendidikan yang naik 1,03 persen dengan andil 0,04 persen.
“Sedangkan penghambat inflasi adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang mengalami deflasi 0,35 persen dengan andil -0,02 persen,” tambah Matamira.
Jika dilihat secara tahunan, tambah Matamira, inflasi tahun kalender NTT sebesar 1,45 persen dan inflasi year on year (y on y) sebesar 2,87 persen.
“Seluruh wilayah masih dalam rentang target inflasi pemerintah, namun untuk inflasi year to date, Waingapu dan TTS masih berada di bawah target, yakni TTS 0,025 persen dan Waingapu 0,5 persen,” akunya.
Matamira menguraikan, ada lima komoditas pendorong inflasi tertinggi pada Oktober 2026. Paling tinggi adalah daging ayam ras dengan andil 0,15 persen, disusul angkutan udara 0,08 persen, biaya akademi/perguruan tinggi 0,04 persen, cabai merah 0,03 persen, dan sawi putih 0,03 persen.
“Kenaikan harga daging ayam ras, disebabkan permintaan yang meningkat sementara stok di pasar terbatas, sehingga mendorong harga naik,” ujar Matamira.
Sementara untuk cabai merah dan sawi putih, kata Matamira, produksinya mulai berkurang karena petani sudah memasuki fase pengolahan lahan, untuk persiapan musim tanam padi, jagung, dan tanaman musim hujan lainnya.
“Tarif angkutan udara dan biaya pendidikan tinggi juga ikut naik pada bulan Oktober, seiring dengan masuknya semester baru perguruan tinggi,” tambahnya lagi.
Di sisi lain, jelas Matamira, ada komoditas yang justru menghambat inflasi, karena harganya turun. Lima besar penghambat inflasi adalah ikan kembung -0,08 persen, kangkung -0,05 persen, ikan tembang -0,04 persen, tomat -0,04 persen, dan emas perhiasan -0,03 persen.
“Mungkin sekarang momen yang tepat, untuk beli emas,” ujar Matamira. (joey)


Follow