spot_img

162 Ribu Anak Dibawah 5 Tahun Meninggal Akibat Diare

Date:

Share:

Oelamasi, Seputar NTT.com – Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan yang mudah terkena penyakit menular. Di Indonesia tercatat 162.000 anak dibawah umur 5 tahun meninggal dunia setiap tahunnya karena diare. Selain diare, penyebab kematian adalah infeksi-infeksi yang berhubungan dengan pneumonia.

Hal ini diungkapkan Panitia Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS) Tingkat Kabupaten Kupang dalam siaran persnya yang ditanda tangani, Ferry Salukh selaku ketua dan Suwardi selaku sekretaris dan diterima media ini, Rabu (16/10) kemarin disela-sela kegiatan cuci tangan pakai sabun massal yang melibatkan ratusan anak di SD Inpres Naibonat Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang.

Dikatakan, berdasarkan hasil riset terkini strategi nasional sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) menunjukkan adanya signifikansi penurunan angka kejadian diare (hingga 94 persen) dan angka cacingan (sampai 71,6 persen) yang dapat dicapai dengan adanya modifikasi lingkungan untuk merubah perilaku negatif.

“Contohnya seperti mengurangi buang air sembarang peningkatan kebiasaan untuk mencuci tangan dengan memakai sabun, pengelolaan air minum sampah dan limbah cair rumah tangga,” kata Salukh.

Dikatakan lagi, komitmen Indonesia untuk mencapai MDG’s 4 adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi dan anak dibawah 5 tahun hingga 23 per 1000 kelahiran hidup di tahun 2015.

Salah satunya adalah menggunakan moment internsional seperti HCTPS sebagai aksi advokasi kepada pemerintah daerah sekaligus upaya promotif terhadap perilaku CTPS agar dapat menjadi budaya bangsa Indonesia sehingga angka kematian dan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh lingkungan dan perilaku manusia dapat dikurangi.

“Pemerintah Indonesia mempunyai komitmen sangat kuat untuk mencapai MDGs. HCTPS adalah sebuah kampanye global untuk menggalakkan perilaku mencuci tangan dengan sabun oleh masyarakat sebagai upaya untuk menurunkan tingkat kematian balita dan pencegahan terhadap penyakit yang dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup manusia,” katanya.

Selain itu, lanjut Salukh, HCTP juga merupakan salah satu aksi advokasi kepada pemerintah daerah sekaligus upaya promotif terhadap perilaku CTPS dan ajang untuk membangun komitmen bersama pemerintah maupun stakeholder terkait untuk bersama-sama mewujudkan pencapaian program STBM yaitu perilaku hidup bersih dan sehat diseluruh lapisan masyarakat.(sho)

Komentar Anda?

Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

━ Kabar Lainnya

126 Pelajar Ikut Keuaraan Atletik Walikota Cup 2026

Kupang, seputar-ntt.com - Sebanyak 126 pelajar dari 52 sekolah mengikuti Kejuaraan Atletik Walikota Cup 2026 yang berlangsung selama dua hari, yakni pada 30-31 Oktober...

Wakil Walikota Bidik Talenta Terbaik NTT, Pelatih Timnas Futsal Putri Turun Langsung di Kota Kupang

Kupang, seputarntt.com - Peluang atlet futsal putri Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kota Kupang, untuk menembus Tim Nasional (Timnas) Futsal Putri Indonesia terbuka melalui...

Wakil Wali Kota Kupang Dorong Pembinaan Atlet Silat Berkelanjutan di Tengah Keterbatasan Anggaran

Kupang, seputarntt.com - Pemerintah Kota Kupang bersama Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Kupang mencari solusi agar pembinaan atlet pencak silat tetap berjalan di...

Pemkot Kupang Satukan Kontingen POPDA VIII NTT, Bidik Prestasi PON 2028

Kupang, seputarntt.com - Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) VIII Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2026 bukan sekadar ajang perebutan medali, tetapi juga momentum memperkuat...

Wakil Wali Kota Kupang Hadiri HUT ke-3 SMP IL Kapten,  Dorong Kolaborasi Cetak Generasi Unggul

Kupang, seputarntt.com - Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, S.Sos., M.Sc., menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai akademik, tetapi juga...