Oleh : Dirly Petrit, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Prodi Ilmu Komunikasi, Unwira Kupang.
Kupang, seputarntt.com – Kebaikan sering dianggap hal kecil. Menyapa teman yang murung, membantu dosen membawa buku, mengantre air minum, atau menyisihkan uang jajan untuk teman yang kesusahan. Di kampus Universitas Katolik Widya Mandira Kupang (UNWIRA), hal-hal kecil inilah yang seharusnya menjadi budaya.
UNWIRA tidak hanya mencetak sarjana yang pintar, tetapi juga manusia yang berkarakter. Sebagai kampus yang berakar pada nilai-nilai Katolik dan kearifan lokal Nusa Tenggara Timur, UNWIRA punya modal besar untuk menjadi laboratorium kebaikan. Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak akan lengkap jika lulusan kita hanya unggul di IPK, tapi gagal dalam kepedulian.
Kebaikan di kampus dimulai dari kesadaran sederhana: kita semua pendatang dari berbagai pulau di NTT, dengan bahasa dan latar belakang berbeda. Di sinilah kebaikan menjadi bahasa pemersatu. Mahasiswa yang mau mendengarkan tanpa menghakimi, dosen yang mau meluangkan waktu di luar jam kuliah, staf yang melayani dengan senyum. Itu semua adalah kebaikan yang membangun rasa memiliki terhadap kampus.
Ada tiga kebaikan yang perlu kita rawat bersama.
Pertama, kebaikan dalam belajar. Saling berbagi catatan, mengajari teman yang belum paham, dan tidak menutup akses ilmu. Kampus bukan arena kompetisi yang egois, melainkan komunitas yang saling mengangkat.
Kedua, kebaikan dalam bertindak. Ikut membersihkan kelas setelah kuliah, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menyebarkan hoaks di grup angkatan, dan berani menegur teman yang berbuat curang saat ujian. Kebaikan ini menjaga nama baik almamater.
Ketiga, kebaikan yang keluar dari kampus. Mahasiswa UNWIRA yang turun ke masyarakat saat KKN, bakti sosial, atau sekadar membantu warga di Oeba, Naikoten, dan sekitar Kupang, adalah duta nyata kasih. Masyarakat tidak hanya menilai UNWIRA dari gedungnya, tapi dari perilaku mahasiswanya.
Tantangannya nyata. Media sosial membuat kita mudah menghujat, mudah menyebar kabar tanpa verifikasi, mudah lupa empati. Padahal, satu klik jahat bisa melukai. Maka kebaikan digital juga harus kita latih: berpikir sebelum membagikan, berkomentar dengan santun, dan memviralkan hal-hal baik.
Kebaikan tidak butuh panggung besar. Ia butuh konsistensi. Jika setiap mahasiswa UNWIRA melakukan satu kebaikan setiap hari, dalam satu semester kita sudah menciptakan ribuan kebaikan. Bayangkan dampaknya bagi Kupang dan NTT.
UNWIRA boleh dikenal sebagai kampus yang hebat, tapi akan lebih dikenang jika dikenal sebagai kampus yang baik. Pintar dan baik harus jalan beriringan. Karena pada akhirnya, ijazah boleh membuka pintu pekerjaan, tetapi kebaikanlah yang membuka pintu hati masyarakat.
Mari mulai dari diri sendiri, dari hal terkecil, dari hari ini. Karena NTT butuh lebih banyak orang baik, dan itu bisa dimulai dari bangku kuliah kita.(*)


Follow