Oleh: Didimus Wungo, Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, NTT
Kupang, seputarntt.com – Alamku Sayang, Alamku Malang, Alamku Garang. Kalimat ini bukan sekedar sebuah permainan diksi yang menghias lembaran sajak, melainkan sebuah ringkasan naratif atas lintasan tragis relasi antara manusia modern dan bumi tempat ia berpijak. Frasa ini merekam sebuah metamorfosis ekologis yang mengiris nurani. Pada mulanya, alam hadir sebagai rahim kehidupan yang senantiasa merawat, memeluk, dan memberi kelimpahan tanpa syarat, atau sebuah entitas penuh kasih yang kita sebut sebagai Alamku Sayang. Namun, gelombang modernitas yang digerakkan oleh ambisi akumulasi kapital mereduksi alam menjadi sekedar komoditas mati, meninggalkannya dalam kubangan eksploitasi dan penderitaan yang panjang (Alamku Malang). Puncaknya, ketika batas daya dukung ekosistem telah dilampaui dan luka-luka di tubuh bumi dibiarkan menganga, alam memantulkan kembali kekerasan struktural tersebut dalam rupa amukan seperti bencana iklim, dan kebakaran hutan yang begitu hebat yang melahap apa saja tanpa ampun (Alamku Garang).
Jika kita mengarahkan pandangan kritis ke lanskap pulau Kalimantan saat ini, frasa tersebut menjelma menjadi realitas sosiologis dan ekologis yang tidak terbantahkan. Kalimantan, yang lama diagungkan sebagai salah satu paru-paru dunia dengan kekayaan hayati yang begitu luar biasa, kini telah bermutasi menjadi teater terbuka tempat ketamakan struktural berbenturan dengan ratapan sunyi keanekaragaman hayati. Bencana kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang setiap musimnya bukanlah anomali cuaca musiman yang lahir dari siklus meteorologis semata. Ia adalah sebuah simptom akut dari krisis peradaban yang menempatkan alam sebagai objek jarahan tanpa subjek, mencerminkan kegagalan terbesar umat manusia dalam merumuskan kontrak sosial yang adil dengan bumi. Untuk membaca tragedi ini secara lebih mendalam, kita perlu menelusuri akar persoalannya pada pergeseran cara pandang manusia terhadap alam semesta. Dalam khazanah kearifan lokal masyarakat adat Nusantara, terlebih khusus di pulau Kalimantan, alam tidak pernah dipahami sebagai benda mati atau rex extensa yang terpisah dari diri manusia. Alam dihayati sebagai subjek hidup, seorang “ibu” yang melahirkan, memelihara, dan merawat seluruh jaringan kehidupan dalam satu harmoni kosmologis. Dalam pandangan ini, manusia adalah bagian kecil dari jalinan ekosistem yang lebih luas, bukan penguasa mutlak yang berhak menentukan hidup matinya alam.
Namun, masuknya rasionalitas modern mengubah lanskap epistemologis tersebut secara radikal. Paradigma antrosentrisme ekstrem menempatkan manusia di puncak piramida kekuasaan, memandang hutan primer yang berusia ribuan tahun sekadar sebagai persediaan bahan baku mentah dalam neraca perdagangan global. Ketika orientasi pembangunan direduksi sebatas kalkulasi pertumbuhan ekonomi jangka pendek yang terobsesi pada angka-angka statistik, hutan dipandang sebagai ruang kosong yang “tidak produktif” jika dibiarkan apa adanya. Konversi besar-besaran lahan menjadi perkebunan monokultur skala masif serta ekspansi izin tambang merangsek masuk tanpa belas kasihan. Di titik inilah “alam yang sayang” secara sistematis dialihfungsikan menjadi “alam yang sayang”.
Dari perspektif fenomenologis, bencana kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan merupakan bentuk nyata dari genosida ekologis yang kerap dilegitimasi oleh kelalaian regulasi yang timpang. Ketika sebuah ekosistem disiksa secara terus-menerus melalui pengeringan paksa lahan gambut untuk kepentingan industri dan pembukaan lahan dengan cara-cara pintas, keseimbangan hidrologisnya akan runtuh seketika. Lahan gambut yang semestinya berfungsi sebagai spons raksasa penyerap karbon dan pengunci kelembapan diubah menjadi daratan kering yang sangat rentan terbakar api. Ketika percikan api kecil mulai membakar, ia tidak lagi dapat dikendalikan karena ekosistem tersebut telah kehilangan ketahanan alaminya. Di sinilah metamorfosis terakhir menemukan bentuknya yang paling mengerikan ketika alam menunjukkan sisi garangnya. Asap pekat yang mencekik tenggorokan jutaan warga, lumpuhnya aktivitas sosial dan pendidikan, serta musnahnya satwa-satwa endemik adalah bahasa perlawanan bumi. Alam sedang berbicara dengan caranya sendiri, memantulkan kembali kekerasan yang selama ini dilemparkan kepadanya oleh peradaban yang serakah. Asap yang melintasi batas teritorial negara bukan sekadar persoalan diplomasi regional yang memalukan, melainkan sebuah alarm moral bahwa manusia sedang menggali kuburnya sendiri akibat ketidakmampuan dalam mengelola rumah tinggalnya.(*)


Follow