Oleh: Andreas Dhei. Loy, Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
Kupang, seputarntt.com – Dalam dinamika zaman modern, etika tanggung jawab menghadapi berbagai macam tantangan yang menunjukan semakin lemahnya kesadaran manusia terhadap kewajiban moralnya. Fenomena ini tampak dalam berbagai persoalan kehidupan, seperti terwujud dalam sikap tidak peduli terhadap sesama, tindakan diskriminasi, serta meningkatnya kecenderugan untuk megutamakan kepentigan pribadi. Keadaan tersebut memperlihatkan bahwa kemajuan zaman tidak selalu diikuti oleh perkembangan kesadaran etis manusia. Maka untuk mengatasinya, diperlukan refleksi filosofis bagi manusia atas pentingnya etika tanggung jawab sebagai dasar dalam membangun hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesamanya.
Etika tanggung jawab merupakan sebuah pandagngan etis yang menekankan setiap manusia perlu mempertimbangkan akibat dari tindakan dan keputusan yang diambil serta bersedia menanggung konsekuensinya. Pandangan ini mau menunjukan bahwa manusia tidak seharusnya bertindak untuk memenuhi keinginannya sediri. Ia juga perlu mempehatikan dampak dari tindakannya terhadap orang lain. Karena bukan hanya berkaitan dengan keputusan pribadi yang harus diutamakan, melainkan juga kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki pengaruh terhadap kehidupan sesama.
Tangung Jawab Sebagai Dasar Eksistensi
Dalam pemikiran Emmanuel Levinas, tanggung jawab manusia tercipta melalui perjumpaan dengan manusia lain, yang disebut sebagai “The Other”. Perjumpaan tersebut menyadarkan bahwa orang lain bukanlah objek yang diperlakukan sesuka hati, melainkan sebagai pribadi yang memiliki martabat yang patut dihargai. Kehadiran orang lain mengundang manusia untuk keluar dari sikap yang berpusat pada diri sendiri, lalu membuka diri terhadap kebutuhan dan keadaan sesamanya. Dengan demikian, relasi antarmanusia seharusnya dibangun atas dasar kepedulian, penghargaan dan tanggung jawab, bukan semata-mata demi kepentingan pribadi
Berdasarkan pemikiran tersebut tanggung jawab dapat dipahami sebagai unsur mendasar dalam eksistensi manuisa. Manusia tidak hanya menyadari keberadaan dirinya, tetapi juga menyadari bahwa keberadaanya selalu berhubungan dengan orang lain. Subjektivitas dirinya harus sungguh-sungguh eksis karena pada dasarnya dirinya adalah subjek dari tanggung jawab itu sendiri. Jadi sangatlah tidak mungkin kalau subjek dapat berdiri kuat tanpa tanggung jawab yang eksis. Karena bagi Levinas tanggung jawab tidak dapat dijadikan sebagai status atribut sementara, melainkan sebagai pedoman dasar untuk mendorong diri agar dapat melakukan sikap tanggung jawab yang kuat terhadap sesama.
Levinas juga mengajak manusia untuk memahami orang lain sebagai pribadi yang berbeda dari dirinya, bukan sebagai objek untuk memenuhi kepentingan tertentu. Gagasan ini dapat diperhadapkan dengan ungkapan Rene Descrates, cogito ergo sum yang berarti “aku berpikir maka aku ada”. Dalam kerangka etika Levinas, penekanan terhadap keberadaan diri dapat diperluas melalui kesadaran akan taggung jawab terhadap sesama. Gagasan tersebu dapat ditunjukan melalui ungkapan Respondeo ergo sum, yang berarti “aku bertanggung jawab maka aku ada”. Ungkapan ini menegaskan bahwa keberadaan manusia tidak hanya bermakna bagi dirinya, tetapi juga memperoleh makna melalui kesediannya untuk bertanggung jawab terhadap sesamanya.
Etika tanggung jawab juga tidak cukup berhenti pada gagasan atau pemikiran, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Perwujudannya dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang berangkat dari rasa empati dan kepedulian, seperti menjadi pendengar yang baik membantu sesama, menghargai perbedaan, dan membangun semangat gotong royong. Tindakan-tindakan tersebut menunjukkan bahwa manusia patut memperlakukan orang lain sebagai pribadi yang setara dan memiliki martabat yang sama dengan dirinya.
Membangun hubungan yang bermartabat berarti memperlakukan orang lain sebagai pribadi yang memiliki nilai pada dirinya sendiri. Hubungan yang sehat lahir ketika manusia saling menghargai, bukan saling merendahkan atau menghakimi. Menghargai sesama berarti mengakui bahwa mereka yang lain bukan sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan pribadi, melainkan sebagai individu yang memiliki kehendak, dan martabat yang patut dihormati.
Dalam kehidupan sehari-hari Terkadang manusia mempunyai cara untuk melakukan yang lain sebagai pemenuhan atas kebutuhannya. Sikap seperti ini tentunya membuat hubungan antarmanusia menjadi dangkal karena sesamanya hanya dihargai selama dianggap berguna bagi kepentingan pribadi. Padahal, pada dasarnya kerhadiran orang lain tidak boleh direduksi sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu. Setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati, terlepas dari latar belakang, kemampuan, maupun setiap manfaat yang dapat dibeikannya. Karena itu, eksistensi dirinya harus didasarkan pada etika tanggung jawab yang perlu dihidupi agar manusia tidak hanya terjebak dalam sikap egois, diskriminatif, dan tindakan yang merendahkan sesama.
Pemikiran etika tanggung jawab Emmanuel Levinas menegaskan bahwa eksistensi manusia tidak semata-mata ditentuk oleh status untuk pemenuhan kebuthan hidupnya sendiri. Eksistensi itu berkaitan dengan cara mausia menyikapi dan memperlakukan sesamanya. Melalui perjumpah dengan The Other, manusia disadarkan akan tanggung jawab untuk menghormati dan memperhatikan orang lain. Kehadiran seseorang bukanlah sebagai layar drama yang bisa dipraktekan hanya sebagai pelengkap bagi kepentingan pribadi, melainkan panggilan untuk membangun hubungan yang didasarkan pada penghargaan terhadap martabat manusia. Oleh karena itu dari pemikiran Emanue Levinas dapat disimpulakn bahwa eksitensi anusia memiliki makna yang relasional dan etis. Manusia tidk hidup dalam keterasingan, tetapi selalu dalam hubuungan dengan sesamanya. Karena itu keberadaan diri perlu diwujudkan melalui tindakan yang bertanggung jawaba, mulai dari sikap sederhana hingga keputusan yang berdampak luas. Tanggung jawab bukan sekadar pelengkap dalam hubungan sosial, melainkan dasar untuk menghormati martabat setiap manusia. Pada akhirnya, manusia sungguh menghayati keberadaanya ketika ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga ketika ia bersedia hadir dan bertanggung jawab bagi sesamanya.(*)


Follow