Oleh : Moses Apollonius Bokol, mahasiswa fakultas filsafat, program studi ilmu filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira
Kupang, seputarntt.com – Polemik yang terjadi di dunia dewasa ini, kian memilukan. Banyak pertentangan, entah itu pertentangan yang terjadi antara individu dan individu, kelompok dan kelompok, individu dan kelompok, atau kelompok dengan individu. Hal ini berdampak pada arah sesungguhnya, bahwa tujuan manusia adalah dirinya sendiri, bukan sekadar sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Namun berbeda dengan pola pikir manusia di era ini, manusia mengorbankan etika dalam hidupnya, demi mencapai sebuah viralitas tertentu, nilai-nilai moral perlahan di tinggalkan dan tata krama tidak lagi di jaga. Hal ini, tentu sangat memprihatinkan, setiap manusia berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, tetapi di balik kebaikan dan intelektualitas yang tinggi, tersimpan kecacatan dalam menjunjung tinggi nilai moral dalam bersosial media.
Banyak hal yang terjadi, namuan belum di pahami oleh manusia itu sendiri, seseorang terkadang menjadikan orang lain sebagai objek demi memperoleh jumlah penonton, komentar, dan popularitas. Misalnya, merekam seseorang, menyebarkan video tanpa persetujuan, atau menjadikan kelalaian orang lain sebagai bahan hiburan. Tindakan semacam ini adalah tindakan yang mencoreng nilai moral dalam diri manusia, merupakan tindakan yang biasanya di lakukan oleh orang-orang yang haus akan konten dan hiburan yang tidak bermartabat. Hal semacam ini juga, dapat di pengaruhi karena kurangnya kesadaran dalam diri dan minimnya literasi tentang etika dalam bersosial media.
Immanuel kant mengatakan bahwa, viralitas tidak boleh mengalahkan penghormatan terhadap martabat manusia. Artinya bahwa, etika dalam bermedia sisoal harus di jaga, sebab dengan adanya tindakan yang tidak sejalan dengan etika dan norma dalam bermedia sosial, dapat berdampak pada martabat manusia itu sendiri.
Pentingnya kesadaran dari manusia, agar bertindak sasuai dengan prinsip yang di jadikan hukum universal. Pola pikir manusia cenderung dapat di pengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal dan pengajaran-pengajaran yang di peroleh dari bidang manapun. Manusia tidak di perbolehkan bertindak semenah-menah terhadap siapapun, terutama dalam dunia digital (modsos), karena tindakan semenah-menah sangat bertentangan dengan nilai moral dalam hidup manusia.
Dalam bermedia sosial, penalaran dan berpikir kritis sangat penting, karena dengan adanya penalaran yang baik, dan kapasitas intelektual yang memadai dalam hal berpikir, maka manusia dapat menyadari bahwa, mempertimbangkan sebuah tindakan, sebelum di lakukan adalah, langkah cerdas yang di buat, dan merupakan langkah palinhg awal, yang tidak bisa di lakukan oleh orang-orang yang tidak mempunyai etika dalam bermedia sisoal serta yang kurang dalam bidang ilmu pengetahuan.
Di sini Immanuel kant hadir sebagai penengah, dari polemik yang sedang marak belakangan ini, pencarian viralitas diri yang tidak bermartabat, karena hanya mementingkan nilai kontenya saja, tanpa memperhatikan hal yang jauh lebih penting yaknki tata krama dan sopan santun, serta etika yang mestinya selalu di bawa dan di jaga terutama ketika berkunjung ke tempat orang lain.(*)


Follow