Oleh : Simon Nainoe, Mahasiswa Fakultas filsafat, UNWIRA Kupang
Kupang, seputarntt.com – Kita pasti pernah melihat sebuah mobil melaju di jalan raya, lalu sebuah tangan terjulur keluar dari jendela dan melepaskan bungkusan makanan begitu saja. Bungkus itu diterpa angin, mendarat di aspal, dan mungkin saja berakhir di selokan. Pemiliknya mungkin sudah lupa dalam hitungan detik. Parahnya lagi sebagian orang pun menganggap itu yang hal biasa.
Sampah Bukan sekadar kebersihan tapi soal etika
Etika lingkungan sebenarnya adalah hal sederhana, tentang bagaimana kita menyadari dan menghargai tempat hidup kita karena kita bukan satu satunya penghuni.
Banyak orang mengira bahwa masalah sampah adalah masalah teknis dan fasilitas semata seperti kurangnya tempat sampah, kurangnya petugas berbaju oranye ataupun truk pengangkut yang sedikit saja. Semua itu memang berpengaruh tetapi jika boleh jujur, tempah sampah yang sudah disediakan pun terkadang diabaikan. Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya kesadaran moral. Dampaknya sudah terlihat nyata. Dilansir dari https://indonesiaasri.com/ dan situs resmi kementerian lingkungan hidup, data dilapangan memperlihatkan bahwa Indonesia bisa menghasilkan puluhan juta ton sampah setiap tahun, dan sebagian besarnya dapat kita temukan di tempat pembuangan akhir yang kian hari kian penuh. Salah satunya Alak, Kota Kupang. Tak jarang kita temukan banyak sampah tergenang di sungai dan laut sekitar pelabuhan.
Coba kita bayangkan sebuah rumah yang dihuni banyak orang. Kalau satu orang membuang sampah sembarang di dapur, mungkin tidak ada yang langsung terganggu. Tetapi kalau semua orang di rumah itu berpikir, “ah, itu hanya sedikit kok” dalam beberapa hari pasti dapur itu akan berubah menjadi tempat yang tidak layak huni lagi karena kotor. Begitu pun dengan bumi yang adalah rumah kita bersama yang akan menjadi tak layak huni jika setiap kita membuang sampah sembarang tempat.
Tanggung jawab menembus batas pekarangan rumah saja dan zaman kita
Berbicara tentang tanggung jawab berarti menyangkut keberanian menanggung akibat dari apa yang kita lakukan, meskipun akibat itu muncul jauh di kemudian hari dan jauh dari pandangan kita.
Satu bungkus plastik yang kita pakai beberapa menit saja bisa bertahan di alam selama ratusan tahun. Coba kita pikirkan itu. Kita menikmati kemudahanya sedikit saja, dan kemudian mewariskan sisanya kepada generasi anak cucu kita bahkan sebelum mereka lahir. Mereka tidak pernah kita mintai persetujuan, mereka tidak pernah merasakan junk food yang kita makan, tapi mereka turut merasakan dampaknya, alam yang rusak, banyaknya penyakit, dan bencana banjir.
Kita perlu adil dalam berpikir dan bertindak dan keadilan bagi generasi mendatang dimulai dari tindakan nyata. Banyak cara yang dapat kita lakukan. Misalnya dengan melakukan kegiatan bank sampah yang dapat meminimalisir sampah dan di sisi lain dapat menghasilkan uang; atau menggunakan kreativitas untuk membuat sampah menjadi sesuatu yang bernilai dan estetis; atau mengadakan kegiatan rutin dengan memungut sampah di sekitar pekarangan rumah. Kita tidak perlu menunggu pemerintah. Kita tidak perlu menunggu aturan. Kita tidak perlu orang lain bertindak dahulu.
Dimulai dari kebiasaan kecil yang tak dilihat orang
Kerap kali kita bertindak buruk saat tidak dilihat orang. Kita meninggalkan botol minuman di bangku taman, membuang puntung rokok ke selokan dan dipinggir jalan, menumpuk sampah di bantaran sungai karena malas berjalan jauh atau karena petugas belum datang. Semua ini merupakan contoh nyata dimana karakter kita yang sebenarnya muncul saat tidak ada yang melihat. Karena tidak adanya yang menegur dan memberi sanksi, kita dengan bebas melakukannya, bukan hanya sekali tapi berulang kali. Aturan dan sanski memang perlu, tetapi aturan itu hanya bisa menjaga orang yang takut ketahuan.
Etika, sebaliknya, menjaga orang yang tahu bahwa setiap perbuatanya punya konsekuensi entah dilihat ataupun tidak dilihat orang. Masalahnya adalah kita ini hidup di era dimana semuanya serba praktis, serba instan, semuanya bisa dipesan, dibungkus, dan dibuang. Kemudahan ini yang nantinya membuat kita lupa bahwa setiap sampah akan berakhir di halaman rumah kita sendiri.
Menanam hari ini, Memanen nanti
Ada pepatah lama yang mengatakan “apa yang kita tabur itu yang kita tuai.” Pepatah ini sering kita pakai untuk urusan tulis menulis dan karya amal, tetapi jarang kita terapkan pada tumpukan plastik yang ada di sekitaran kita padahal ituhal hal yang paling dekat dengan kita. Mulailah membawa tas sendiri saat berbelanja, peka terhadap lingkungan, pilih dan pilah sampah yang berceceran di jalan. Tegur siapa pun yang membuang sampah sembarangan, bukan dengan marah dan kecaman, tetapi dengan ajakan yang baik. Dengan mengajari orang orang terdekat kita untuk lebih menghargai rumah kita bersama melalui kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, kita sudah turut menjaga bumi untuk generasi mendatang, sebab, apa yang kita tabur hari itulah yang akan kita tuai esok hari.(*)


Follow