spot_img

Urgensi Etika Lingkungan dalam Membangun Kesadaran Mahasiswa Terhadap Kelestarian Alam

Date:

Share:

Oleh : Efrem Yospeh Riwu, Mahasiswa Universitas Katolik Widia Mandira Kupang Fakultas Filsafat Semester 3

Persoalan yang menjadi trending topic dan menjadi hal yang sudah terbiasa untuk dibicarakan dunia dewasa ini yakni masalah lingkungan. Fenomena ini seringkali menjadi pemicu bagi semua orang dan menjadi keresahan sebagian orang akibat kerusakan lingkungan yang sering terjadi. Coba perhatikan di sekitar kita atau fenomena yang sering kita temukan, kotak plastik berserakan di mana-mana, kotak makanan maupun minuman menumpuk di sudut-sudut taman dan spanduk bertuliskan Go Green masih terpapang gagah di dinding. Ironi dan fenomena seperti ini bukanlah hal biasa bagi semua orang. Mahasiswa yang merupakan agen generasi penerus masa depan dan berpikir kritis serta lebih dikenal dengan dunia intelektual justru mengabaikan persoalan seperti ini. Hal ini menjadi sebuah pertanyaan bagi semua orang, di mana letak kepedulian kaum terdidik? Banjir yang menjadi suatu fenomena yang sering terjadi, tumpukan sampah plastik yang mencemari laut adalah tanda bahwa krisis lingkungan sudah menjadi hal yang dibiasakan oleh setiap orang. Ketika menghadapi persoalan seperti ini, banyak orang menganggap bahwa persoalan-persoalan seperti ini adalah urusan pemerintah, aktivis, dinas lingkungan, ataupun pihak yang berwenang. Seolah-olah masalah seperti ini hanya ditangani oleh pihak-pihak tersebut.

Aturan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam setiap tuntutan dan pekerjaan. Larangan untuk membuang sampah dan berbagai sanksi yang diterima diperlukan oleh semua orang. Namun, aturan hanya diterapkan ketika pihak yang berwenang turun langsung ke lapangan atau ada yang mengawasi. Tuntutan etika dalam bekerja menumbuhkan kesadaran setiap orang untuk menjaga lingkungan bukan karena takut ditegur tetapi karena yakin bahwa merawat bumi dan merawat lingkungan merupakan suatu hal yang sangat penting demi menyelamatkan semua orang dan menjadi pewaris bagi generasi masa depan. Dalam hal ini mahasiswa yang merupakan tonggak dan fondasi intelektual mestinya berada pada garda terdepan untuk menyuarakan persoalan-persoalan seperti ini. Mengapa hal ini penting, pertama, mahasiswa lebih banyak mengakses ilmu pengetahuan dan mampu untuk mengolah ilmu pengetahuan tersebut dengan tujuan untuk suatu hal yang merujuk pada kebaikan. Mampu membaca data, melakukan riset penelitian, dan menyadari bahwa konsekuensi dari jangka panjang dari kerusakan lingkungan. Ilmu yang sudah diperoleh tersebut jika tidak diterpakan dengan baik akan menjadi suatu hal yang bobrok. Kedua, mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan. Sebagai orang yang membawa agen perubahan dan memperoleh gelar sarjana mestinya akan terus menerapkan suatu kebiasaan seperti ini. Mahasiswa yang sering mengabaikan persoalan seperti ini akan sulit untuk menjadi pemimpin. Ketiga, mahasiswa memiliki daya pengaruh yang kuat. Satu teladan akan membawa pengaruh bagi orang lain.

Etika lingkungan mesti dibangun dari kesadaran dan kebiasaan setiap orang. Mulailah dari hal-hal kecil. Pada level pribadi, mahasiswa semestinya membawa botol, membawa makanan dengan tempat nasi, memilah sampah dan mengurangi pemakaian plastik dan kertas. Pada level yang kedua di bidang organisasi. Aksi bersih atau seminar tentang lingkungan hidup merupakan hal yang mesti dijalankan. Pada level yang ketiga di bidang kampus. Kampus perlu menyediakan fasilitas pemilahan sampah, menerpakan kebijakan hemat energi, rutin melakukan kegiatan seminar berkaitan dengan lingkungan hidup dan menerpakan mengadakan bakti kampus. Dosen pun perlu menjadi teladan, sebab mahasiswa belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan tetapi dari apa yang dilihat.

Lingkungan di sekitar tidak memerlukan seorang mahasiswa yang hanya pandai berorasi dan sering melakukan seminar tanpa aksi nyata. Lingkungan memerlukan mahasiswa yang peduli dan menjadikan kepedulian itu sebagai kebiasaan yang senantiasa membawa perubahan. Kelestarian alam bukan warisan yang kita terima dari nenek moyang, melainkan titipan yang kelak harus kita pertanggungjawabkan kepada generasi berikutnya. Maka sebelum menuntun dunia berubah mulailah dari hal-hal kecil untuk peduli terhadap lingkungan sekitar.(*)

Komentar Anda?

Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

━ Kabar Lainnya

126 Pelajar Ikut Keuaraan Atletik Walikota Cup 2026

Kupang, seputar-ntt.com - Sebanyak 126 pelajar dari 52 sekolah mengikuti Kejuaraan Atletik Walikota Cup 2026 yang berlangsung selama dua hari, yakni pada 30-31 Oktober...

Wakil Walikota Bidik Talenta Terbaik NTT, Pelatih Timnas Futsal Putri Turun Langsung di Kota Kupang

Kupang, seputarntt.com - Peluang atlet futsal putri Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kota Kupang, untuk menembus Tim Nasional (Timnas) Futsal Putri Indonesia terbuka melalui...

Wakil Wali Kota Kupang Dorong Pembinaan Atlet Silat Berkelanjutan di Tengah Keterbatasan Anggaran

Kupang, seputarntt.com - Pemerintah Kota Kupang bersama Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Kupang mencari solusi agar pembinaan atlet pencak silat tetap berjalan di...

Pemkot Kupang Satukan Kontingen POPDA VIII NTT, Bidik Prestasi PON 2028

Kupang, seputarntt.com - Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) VIII Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2026 bukan sekadar ajang perebutan medali, tetapi juga momentum memperkuat...

Wakil Wali Kota Kupang Hadiri HUT ke-3 SMP IL Kapten,  Dorong Kolaborasi Cetak Generasi Unggul

Kupang, seputarntt.com - Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, S.Sos., M.Sc., menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai akademik, tetapi juga...