spot_img

Melawan Penundaan, Membangun Integritas: Sebuah Tinjauan Etis atas Kebiasaan Menunda

Date:

Share:

Oleh: RICHARDUS K.A. NGGIRING
Status: Mahasiswa Fakultas Filsafat Semester 3, Universitas Widya Mandira Kupang

Kupang, seputarntt.com – Fenomena prokrastinasi atau yang lebih dikenal dengan penundaan, sering dianggap sebagai sebuah kebiasaan kecil yang dapat dibiarkan. Padahal, perilaku menunda tugas hingga mendekati tenggat waktu bukan sekadar masalah manajemen waktu. Hal ini dapat diartikan sebagai bentuk kegagalan mengarahkan kehendak, di mana seseorang tahu apa yang seharusnya dilakukan dan memahami akibat buruk dari penundaan, tetapi tetap memilih untuk menikmati kesenangan sesaat. Aristoteles (seorang filsuf Yunani kuno) menyebut kondisi ini sebagai akrasia, yaitu kelemahan kehendak atau ketidaktahuan diri.

Fenomena ini sangat nyata di kalangan mahasiswa. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Resti Susanti mengenai gambaran fenomena prokrastinasi pada mahasiswa dan solusi penanganan menggunakan CBT, menunjukkan bahwa 82,51% dari 326 mahasiswa mengalami prokrastinasi pada kategori sedang hingga tinggi. Sementara Siti Shahara dalam penelitiannya mengenai media informasi tentang bahaya prokrastinasi pada aktivitas, menemukan bahwa 74,4% dari 242 mahasiswa mengaku sering menunda tugas. Dari data-data ini menegaskan bahwa prokrastinasi bukan lagi menjadi kejadian yang jarang atau hanya dialami oleh segelintir orang yang malas, tetapi telah menjadi pola perilaku yang meluas dan patut dipersoalkan.

Salah satu persoalan yang membuat fenomena prokrastinasi ini semakin serius adalah lingkungan digital masa kini. Generasi saat ini hidup di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti. Media sosial, tontonan singkat, dan kebiasaan doomscrooling, menyediakan kesenangan instan yang selalu tersedia hanya dengan satu sentuhan. Di sinilah persoalannya menjadi jelas. Distraksi digital tidak hanya mengganggu, tetapi juga melatih manusia untuk memilih kenyamanan sesaat di atas tanggung jawab jangka panjang. Tugas ditunda bukan karena seseorang tidak tahu bahwa tugas itu penting, melainkan karena otak cenderung lebih mudah terpancing oleh hiburan yang langsung memberi kesenangan. Akibatnya waktu terbuang begitu saja, pekerjaan menjadi menumpuk, tekanan terus meningkat, dan rasa cemas selalu datang. Prokrastinasi akhirnya membentuk siklus yang melemahkan seseorang dalam menguasai dirinya sendiri.

Aristoteles menawarkan cara pandang yang sangat relevan untuk memahami masalah ini. Persoalan ini layak disebut tergolong dalam kerangka pemikirannya sebagai akrasia. Akrasia terjadi ketika seseorang memiliki pengetahuan tentang kebaikan, tetapi gagal bertindak sesuai dengan pengetahuan tersebut. Orang yang masuk dalam kategori ini tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan kemampuan untuk menahan diri dan menegakkan pilihan rasionalnya. Aristoteles kemudian menawarkan salah satu jalan keluarnya dengan phronesis atau kebijaksanaan praktis, yakni kemampuan untuk menilai situasi dan menerjemahkan pengetahuan tentang kebaikan menjadi tindakan nyata.

Dari sudut pandang ini, prokrastinasi seharusnya tidak hanya diperlakukan sebagai persoalan psikologis atau teknis. Ia juga merupakan persoalan etis. Ketika mahasiswa menunda tugas hanya demi terus berselancar di media sosial, yang gagal bukan hanya jadwal belajarnya, melainkan juga kemampuannya dalam memilih kebaikan yang telah ia ketahui. Ketika seseorang menunda tugas penting karena terjebak pada hiburan digital, yang terganggu bukan hanya produktivitasnya, tetapi juga tanggung jawab moral terhadap diri sendiri dan orang lain.

Pendekatan CBT (Cognitive Behavioral Therapy) oleh Resti Susanti memang merupakan salah satu pendekatan yang mampu membantu mengatasi prokrastinasi melalui perubahan pola pikir, pengelolaan emosi, dan pembentukan perilaku yang lebih adaptif. Namun keefektivannya dalam mengurangi fenomena penundaan ini tidak serta-merta langsung menjawabi seluruh persoalan yang mendasarinya. Seseorang dapat memahami bahwa penundaan merugikan dirinya dan mengetahui strategi untuk mengatasinya, tetapi tetap kembali pada kebiasaan lama ketika menghadapi godaan atau ketidaknyamanan. Hal ini menunjukkan bahwa mengetahui tindakan yang baik tidak selalu menjamin kemampuan untuk melaksanakannya secara konsisten.

Dalam hal ini, pemikiran Aristoteles tentang kebajikan dapat dijadikan sebagai acuan untuk menjawabi persoalan ini secara lebih mendasar, sekaligus menyempurnakan keefektivan dari pendekatan CBT yang dilakukan dalam penelitian terdahulu. Melalui konsep pembiasaan, Aristoteles menjelaskan bahwa kebajikan karakter terbentuk melalui tindakan yang dilakukan secara berulang. Seseorang tidak menjadi disiplin hanya dengan mengetahui pentingnya disiplin, tetapi melalui latihan terus-menerus untuk bertindak secara disiplin. Demikian pula, kebiasaan menunda tidak cukup diatasi dengan menyadari dampak negatifnya. Seseorang perlu melatih diri untuk memulai pekerjaan, mengendalikan dorongan sesaat, dan menyelesaikan tanggung jawab secara konsisten. Proses tersebut bukan hanya bertujuan mengubah perilaku dalam situasi tertentu, tetapi juga membentuk disposisi karakter yang lebih stabil.

Pada akhirnya, prokrastinasi bukan hanya sekedar cerita tentang tugas yang terlambat dikumpulkan, pekerjaan yang terus menumpuk kerena tertunda, dan distraksi lainnya. Prokrastinasi adalah cerita tentang manusia modern yang hidup di tengah godaan tanpa henti, tetapi tetap dituntut untuk memiliki kehendak dan tanggung jawab. Jika dibiarkan, prokrastinasi dapat menggerus kualitas diri, produktivitas, bahkan daya saing bangsa. Namun, jika dipahami sebagai bentuk kelemahan kehendak dan ketidakmampuan menahan diri, prokrastinasi juga membuka peluang untuk diperbaiki. Hal ini dapat dilakukan bukan hanya dengan mengatur waktu, tetapi dengan membentuk karakter yang mampu memilih kebaikan meskipun godaan untuk menunda selalu tersedia.(*)

Komentar Anda?

Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

━ Kabar Lainnya

126 Pelajar Ikut Keuaraan Atletik Walikota Cup 2026

Kupang, seputar-ntt.com - Sebanyak 126 pelajar dari 52 sekolah mengikuti Kejuaraan Atletik Walikota Cup 2026 yang berlangsung selama dua hari, yakni pada 30-31 Oktober...

Wakil Walikota Bidik Talenta Terbaik NTT, Pelatih Timnas Futsal Putri Turun Langsung di Kota Kupang

Kupang, seputarntt.com - Peluang atlet futsal putri Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kota Kupang, untuk menembus Tim Nasional (Timnas) Futsal Putri Indonesia terbuka melalui...

Wakil Wali Kota Kupang Dorong Pembinaan Atlet Silat Berkelanjutan di Tengah Keterbatasan Anggaran

Kupang, seputarntt.com - Pemerintah Kota Kupang bersama Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Kupang mencari solusi agar pembinaan atlet pencak silat tetap berjalan di...

Pemkot Kupang Satukan Kontingen POPDA VIII NTT, Bidik Prestasi PON 2028

Kupang, seputarntt.com - Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) VIII Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2026 bukan sekadar ajang perebutan medali, tetapi juga momentum memperkuat...

Wakil Wali Kota Kupang Hadiri HUT ke-3 SMP IL Kapten,  Dorong Kolaborasi Cetak Generasi Unggul

Kupang, seputarntt.com - Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, S.Sos., M.Sc., menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai akademik, tetapi juga...